Tulisan

Vibe Coding Mulai dari Mana?

18 Oktober 2026 · Kompasiana
Tayang pertama di Kompasiana

Beberapa waktu terakhir, istilah vibe coding makin sering muncul di linimasa. Ada yang memamerkan aplikasi kasir buatannya dalam satu sore, ada yang membuat situs undangan pernikahan tanpa pernah belajar HTML. Wajar kalau banyak orang lalu bertanya: sebenarnya vibe coding itu apa, dan kalau mau mencoba, mulai dari mana?

Tulisan ini mencoba menjawabnya secara bertahap, dari pengertian sampai langkah praktis pertama.

Dari Mana Istilah Ini Datang?

Istilah vibe coding dipopulerkan oleh Andrej Karpathy, peneliti AI yang pernah menjadi salah satu pendiri OpenAI dan direktur AI di Tesla, lewat unggahannya di X pada Februari 2025. Ia menggambarkan "jenis coding baru" ketika seseorang sepenuhnya "ikut arus" (give in to the vibes), memberi perintah ke AI dengan bahasa sehari-hari, menjalankan hasilnya, dan hampir lupa bahwa kodenya ada. Karpathy sendiri menyebut cara ini "lumayan untuk proyek iseng akhir pekan".

Istilah itu menyebar cepat. Pada November 2025, Collins Dictionary menobatkan vibe coding sebagai Word of the Year 2025, dengan definisi kira-kira: penggunaan kecerdasan buatan yang diberi perintah dalam bahasa alami untuk membantu menulis kode komputer.

Vibe Coding Bukan Berarti Asal Jadi

Ada satu hal penting yang perlu dipahami sejak awal. Programmer dan penulis Simon Willison membedakan dua hal yang sering dicampur:

  • Vibe coding dalam arti sempit: membuat perangkat lunak dengan AI tanpa meninjau kode yang dihasilkan.
  • Pemrograman berbantuan AI: AI menulis kode, tetapi manusia tetap membaca, menguji, dan bertanggung jawab atas hasilnya.

Untuk belajar dan proyek pribadi, cara pertama sah-sah saja. Namun begitu aplikasi akan dipakai orang lain, menyimpan data, atau menyangkut uang, kita perlu bergeser ke cara kedua. Memahami perbedaan ini adalah "langkah nol" sebelum mulai.

Langkah 1: Mulai dari Masalah, Bukan dari Alat

Kesalahan paling umum pemula adalah sibuk memilih alat paling canggih sebelum tahu mau membuat apa. Lebih baik balik urutannya: cari satu masalah kecil di sekitar kita.

Contohnya:

  • Daftar hadir pengajian atau arisan yang selama ini ditulis tangan.
  • Kalkulator sederhana untuk menghitung ongkos kirim atau zakat.
  • Halaman profil usaha dengan tombol "Pesan via WhatsApp".
  • Pengingat jadwal minum obat untuk orang tua.

Ciri proyek pertama yang baik: kecil, bisa selesai dalam satu-dua hari, dan kalau ada salah, tidak merugikan siapa pun.

Langkah 2: Pilih Satu Alat dan Bertahan Dulu

Alat untuk vibe coding kini banyak. Secara garis besar ada tiga jenis:

  1. Asisten obrolan AI (misalnya ChatGPT, Claude, atau Gemini). Cocok untuk memulai: kita minta kode, menyalinnya, lalu mencoba menjalankannya.
  2. Pembuat aplikasi berbasis browser yang bisa langsung menampilkan hasil tanpa memasang apa pun di komputer.
  3. Editor kode dengan AI terpasang atau agen coding di terminal. Lebih kuat, tetapi lebih cocok setelah kita mulai terbiasa.

Saran untuk pemula: pilih satu saja, lalu tuntaskan satu proyek kecil dengannya. Berpindah-pindah alat justru membuat kita tidak pernah benar-benar menyelesaikan apa pun.

Langkah 3: Belajar "Bicara" ke AI

Dalam vibe coding, keterampilan utama bukan menghafal sintaks, melainkan menjelaskan kebutuhan dengan jelas. Perintah yang baik biasanya memuat:

  • Siapa penggunanya ("aplikasi untuk ketua RT yang tidak terbiasa komputer").
  • Apa yang harus bisa dilakukan ("mencatat nama warga dan iuran per bulan").
  • Batasannya ("cukup satu file HTML, tanpa server, data disimpan di browser").
  • Bentuk hasil ("tampilkan kode lengkap dan jelaskan cara membukanya").

Kerjakan bertahap. Minta versi paling sederhana dulu, coba jalankan, baru tambahkan fitur satu per satu. Kalau muncul pesan galat, salin pesan itu apa adanya dan tempelkan ke AI. Kebiasaan sederhana ini menyelesaikan sebagian besar masalah pemula.

Langkah 4: Pahami Sedikit Dasar, Pelan-pelan

Vibe coding memang memungkinkan kita membuat sesuatu tanpa paham kode. Namun pemahaman dasar membuat kita jauh lebih mandiri. Tidak perlu kursus panjang; cukup manfaatkan AI sebagai guru:

  • Minta AI menjelaskan kode yang baru dibuat, baris demi baris, dengan bahasa awam.
  • Tanyakan istilah yang muncul: apa itu HTML, CSS, JavaScript, database, API.
  • Biasakan menyimpan versi yang sudah berjalan sebelum mengubah sesuatu, supaya mudah kembali bila rusak.

Lama-kelamaan kita bisa menilai apakah saran AI masuk akal atau tidak, dan itulah yang membedakan pengguna yang terbantu dengan pengguna yang sekadar bergantung.

Langkah 5: Kenali Batas Aman

Kode buatan AI tidak otomatis aman. Laporan GenAI Code Security dari Veracode (Juli 2025) menguji lebih dari 100 model bahasa besar pada 80 tugas coding dan menemukan bahwa kode yang dihasilkan memuat celah keamanan pada sekitar 45 persen kasus. Angka ini berasal dari uji tugas yang dirancang khusus, bukan survei aplikasi sungguhan, tetapi cukup menjadi peringatan.

Simon Willison memberikan beberapa pegangan yang berguna bagi pemula:

  • Mulai dari proyek berisiko rendah. Pikirkan kerugian yang mungkin timbul bila aplikasi salah atau dibobol.
  • Jaga rahasia. Jangan menaruh kunci API, kata sandi, atau token sembarangan di dalam kode, apalagi mengunggahnya ke tempat publik.
  • Hati-hati dengan data pribadi. Data orang lain, seperti nomor telepon dan alamat, perlu perlakuan serius.
  • Lindungi dompet. Layanan berbayar per pemakaian sebaiknya diberi batas biaya.
  • Minta ditinjau sebelum dibagikan. Sebelum aplikasi dipakai publik, mintalah orang yang berpengalaman memeriksanya.

Langkah 6: Selesaikan, Lalu Bagikan Secara Wajar

Proyek kecil yang selesai jauh lebih berharga daripada proyek besar yang mangkrak. Setelah aplikasi pertama berjalan, pakai sendiri beberapa hari, catat kekurangannya, lalu perbaiki. Setelah cukup yakin, baru tawarkan ke lingkungan terdekat, misalnya keluarga atau pengurus komunitas, sambil terus mengumpulkan masukan.

Dari situ, proyek kedua dan ketiga biasanya terasa jauh lebih mudah. Kita mulai mengenal pola, tahu cara bertanya ke AI, dan tahu kapan harus berhenti dan meminta bantuan.

Penutup

Jadi, vibe coding mulai dari mana? Bukan dari alat termahal atau tutorial terpanjang, melainkan dari satu masalah kecil yang nyata, satu alat yang dipelajari sampai tuntas, dan kebiasaan bertanya dengan jelas. Sisanya adalah latihan, rasa ingin tahu, dan kesadaran akan batas aman.

AI sudah membuka pintu pembuatan perangkat lunak untuk lebih banyak orang. Tugas kita adalah melangkah masuk dengan semangat, sekaligus tetap bertanggung jawab atas apa yang kita buat.

Sumber

  • Simon Willison, "Not all AI-assisted programming is vibe coding (but vibe coding rocks)", 19 Maret 2025 --- simonwillison.net
  • CNN via KVIA, "'Vibe coding' named Collins Dictionary's Word of the Year", 6 November 2025 --- kvia.com
  • All India Radio News, "'Vibe Coding' Named Collins Dictionary's Word of the Year 2025" --- newsonair.gov.in
  • Veracode, "AI-Generated Code Poses Major Security Risks in Nearly Half of All Development Tasks", 30 Juli 2025 --- veracode.com
  • Help Net Security, "AI can write your code, but nearly half of it may be insecure", 7 Agustus 2025 --- helpnetsecurity.com
31 pembaca 0 suka 0 komentar
Bagikan WhatsApp LinkedIn X Facebook

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Untuk menyukai atau menulis komentar, masuk dengan akun Google.

Langganan tulisan

Dapat email setiap ada tulisan baru. Bisa berhenti kapan saja.

atau