Tulisan

Adaptasi dengan AI atau Tertinggal?

19 Oktober 2026 · Kompasiana
Tayang pertama di Kompasiana

Pertanyaan "apakah AI akan mengambil pekerjaan saya?" kini terdengar di ruang kantor, ruang kelas, sampai warung kopi. Jawabannya tidak sesederhana "ya" atau "tidak". Data dari lembaga internasional dan pemerintah menunjukkan gambaran yang lebih bernuansa: AI memang mengubah banyak pekerjaan, tetapi arah perubahannya sangat bergantung pada kesiapan manusia yang menjalankannya.

Tulisan ini merangkum apa yang sudah diketahui dari data, lalu menawarkan langkah praktis untuk mulai beradaptasi.

Hampir 40 Persen Pekerjaan Terpapar AI

Pada 14 Januari 2024, Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF), Kristalina Georgieva, menulis bahwa hampir 40 persen lapangan kerja global terpapar AI. Angkanya berbeda menurut tingkat ekonomi: sekitar 60 persen di negara maju, 40 persen di negara berkembang (emerging markets), dan 26 persen di negara berpendapatan rendah.

Kata kuncinya adalah "terpapar", bukan "hilang". Menurut analisis IMF, kira-kira separuh pekerjaan yang terpapar di negara maju justru bisa diuntungkan karena AI meningkatkan produktivitas. Separuh lainnya menghadapi risiko: tugas-tugas yang selama ini dikerjakan manusia bisa diambil alih mesin, sehingga permintaan tenaga kerja dan upah bisa tertekan.

Artinya, AI bekerja seperti pisau bermata dua. Bagi sebagian pekerja, AI menjadi alat bantu yang membuat kerja lebih cepat. Bagi sebagian lain, AI menjadi pesaing. Yang membedakan keduanya sering kali adalah keterampilan.

Lebih Banyak Pekerjaan Baru, tapi Keterampilannya Berbeda

Laporan Future of Jobs Report 2025 dari World Economic Forum (WEF), yang dirilis Januari 2025 berdasarkan survei terhadap lebih dari 1.000 perusahaan, memproyeksikan bahwa hingga 2030 akan tercipta 170 juta pekerjaan baru, sementara 92 juta pekerjaan tergeser. Secara bersih, ada tambahan 78 juta pekerjaan.

Kabar baik itu datang dengan syarat. Laporan yang sama memperkirakan hampir 40 persen keterampilan kerja akan berubah dalam periode tersebut. Sebanyak 63 persen pemberi kerja menyebut kesenjangan keterampilan sebagai hambatan utama transformasi bisnis mereka.

Respons perusahaan pun beragam. Menurut ringkasan laporan tersebut:

  • 85 persen pemberi kerja berencana meningkatkan keterampilan (upskilling) karyawannya;
  • 80 persen berencana memberi pelatihan AI;
  • dua pertiga berencana merekrut talenta dengan keterampilan AI khusus;
  • 40 persen berencana mengurangi tenaga kerja karena AI mengotomatisasi sebagian tugas.

Angka terakhir itulah yang membuat pertanyaan "adaptasi atau tertinggal" menjadi nyata. Pekerjaan baru memang tumbuh, tetapi tidak otomatis jatuh ke tangan orang yang kehilangan pekerjaan lama. Jembatannya adalah pembelajaran ulang (reskilling) dan peningkatan keterampilan.

Pekerja Sudah Bergerak Lebih Dulu

Menariknya, banyak pekerja tidak menunggu kantor mereka siap. Laporan Work Trend Index 2024 dari Microsoft dan LinkedIn, yang mensurvei 31.000 orang di 31 negara, menemukan bahwa 75 persen pekerja pengetahuan (knowledge workers) sudah memakai AI di tempat kerja. Dari para pengguna itu, 78 persen membawa alat AI mereka sendiri, bukan yang disediakan kantor.

Di sisi lain, hanya 39 persen pengguna AI yang mengaku pernah mendapat pelatihan AI dari perusahaannya. Sementara itu, 79 persen pemimpin perusahaan setuju bahwa adopsi AI penting untuk tetap kompetitif, dan sekitar dua pertiga pemimpin mengatakan tidak akan merekrut seseorang yang tidak punya keterampilan AI.

Ada jarak yang jelas di sini: perusahaan menuntut keterampilan AI, tetapi belum semua menyediakan pelatihannya. Dalam situasi seperti ini, inisiatif belajar mandiri menjadi pembeda.

Bagaimana dengan Indonesia?

Pemerintah Indonesia melihat tantangan yang sama dari sisi pasokan talenta. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) memproyeksikan kebutuhan sekitar 12 juta talenta digital pada 2030. Data yang dipaparkan Kepala BPSDM Komdigi, Bonifasius Pudjianto, menyebut kesenjangan talenta digital diperkirakan sekitar 2,7 juta orang.

Untuk mempersempit jarak itu, Komdigi menjalankan sejumlah program, di antaranya AI Talent Factory yang dimulai pada 2025 bersama perguruan tinggi, serta kerja sama pelatihan AI dengan pihak swasta. Wakil Menteri Komdigi Nezar Patria juga menyampaikan rencana memperdalam materi AI dalam kurikulum literasi digital, termasuk sisi positif dan negatifnya.

Catatan penting: angka pasokan talenta yang dikutip media berbeda-beda tergantung waktu dan cara penghitungan. Yang konsisten adalah pesan utamanya: kebutuhan talenta digital, termasuk talenta yang paham AI, masih lebih besar daripada pasokannya.

Lima Langkah Praktis untuk Mulai Beradaptasi

Adaptasi tidak harus berarti menjadi ahli pemrograman. Bagi kebanyakan orang, langkah awalnya justru sederhana.

1. Kenali tugas sendiri. Uraikan pekerjaan sehari-hari menjadi tugas-tugas kecil. Mana yang berulang dan berbasis pola (merangkum, menyusun draf, merapikan data)? Tugas seperti itu paling mungkin dibantu AI. Mana yang butuh penilaian, empati, dan tanggung jawab? Di situlah peran manusia tetap kuat.

2. Coba alat AI secara aman. Mulailah dari tugas yang risikonya rendah, misalnya menyusun kerangka tulisan atau merangkum dokumen publik. Hindari memasukkan data pribadi, rahasia perusahaan, atau informasi pelanggan ke layanan AI tanpa izin dan aturan yang jelas.

3. Biasakan memeriksa ulang. AI bisa keliru dan terdengar sangat meyakinkan. Kebiasaan mengecek fakta, angka, dan sumber adalah keterampilan yang makin berharga, bukan makin usang.

4. Asah keterampilan manusiawi. Laporan WEF menempatkan keterampilan seperti berpikir kreatif, ketangguhan, dan kemampuan belajar sepanjang hayat di samping keterampilan teknologi. AI mempercepat pekerjaan, tetapi keputusan akhir dan tanggung jawabnya tetap di tangan manusia.

5. Manfaatkan pelatihan yang tersedia. Program pelatihan digital dari pemerintah, kampus, maupun platform daring kini semakin banyak. Sertifikasi kompetensi juga bisa menjadi bukti keterampilan yang diakui pemberi kerja.

Bukan Soal Mesin, tapi Soal Kesiapan

Data dari IMF, WEF, Microsoft-LinkedIn, dan Komdigi menunjukkan pola yang sama: AI sudah hadir di tempat kerja, perubahannya besar, dan kesenjangan keterampilan menjadi tantangan utama. Pekerjaan baru tetap tumbuh, tetapi mensyaratkan keterampilan yang berbeda.

Jadi, pertanyaan "adaptasi dengan AI atau tertinggal?" pada akhirnya kembali kepada masing-masing pekerja, organisasi, dan lembaga pendidikan. AI tidak menunggu siapa pun siap. Kabar baiknya, belajar juga bisa dimulai hari ini, dari tugas kecil di meja kerja sendiri.

Sumber

24 pembaca 0 suka 0 komentar
Bagikan WhatsApp LinkedIn X Facebook

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Untuk menyukai atau menulis komentar, masuk dengan akun Google.

Langganan tulisan

Dapat email setiap ada tulisan baru. Bisa berhenti kapan saja.

atau